Model-Model Pembelajaran

Nama : Septiyani Nur Herlianasari

NIM : 0805613

Jur/Prodi : TekPend / PP

MaKul : Model-Model Pembelajaran

Dosen : Dr. Toto Ruhimat, M.Pd.

Dr. Rusman, M.Pd.





1. a) Ciri-ciri model pembelajaran adalah :

- model-model pembelajaran yang digunakan sudah dianalisis berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar dari para ahli tertentu;

- beberapa model tertentu ( model penelitian kelompok) dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis;

- memiliki tujuan atau misi pendidikan tertentu;

- dirancang untuk mengembangkan proses berfikir induktif ( pada model berfikir induktif);

- dapat digunakan sebagai pedoman dalam memperbaiki kegiatan belajar mengajar dikelas;

- terdiri dari beberapa bagian (urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax), adanya prinsip-prinsip reaksi, sistem sosial, sistem pendukung) yang dapat digunakan oleh guru seagai pedoman praktis saat melaksanakan suatu model pembelajaran;

- model-model yang diterapkan dalam pembelajaran akan memberikan dampak, dampak tersebut berupa dampak pembelajaran (hasil belajar yang dapat diukur) dan dampak pengiring (hasil belajar jangka panjang);

- saat akan mengajar desain pembelajarannya berpedoman pada model pembelajaran yang diinginkan/dipilih.

b) Empat jenis model pembelajaran berdasarkan teori diantaranya :

1. Model Interaksi Sosial, model pembelajaran ini didasari oleh teori pembelajaran Gestalt yaitu field-theory, model interaksi sosial ini menitik beratkan pada hubungan yang harmonis antara individu dengan masyarakat luas (learning to life together), karena model ini didasari oleh teori pembelajaran Gestalt maka pokok pandangan dari model ini adalah objek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasikan, maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran akan lebih bermakna bila materi diberikan secara utuh bukan bagian-bagian.

2. Model Pemrosesan Informasi, model ini berdasarkan teori belajar kognitif (Piagent) dan berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Pemrosesan informasi merujuk pada cara mengumpulkan/ menerima stimuli dari lingkungan (misalnya: mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep serta menggunakan simbol verbal dan visual). Pelopor dari teori ini adalah Robert Gagne (1985). Beliau berasumsi bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkemangan. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capitalities) yang terdiri dari : (1) informasi verbal; (2) kecakapan intelektual; (3) strategi kognitif; (4) sikap; (5) kecakapan motorik. Strategi dari model ini meliputi: mengajar induktif, latihan inquiry, inquiry keilmuan, pembentukan konsep, model pengembangan, dan Advance Organizer Model.

3. Model Personal (Personal Models), model ini bertitik tolak dari teori Humanistik, yaitu teori yang berorientasi terhadap pengembangan diri individu, yang menjadi perhatian utama dari teori ini adalah emosional siswa untuk mengembangkan hubungan yang produktif dengan lingkungannya. Model ini menjadikan pribadi siswa yang mampu membentuk hubungan yang harmonis serta mampu memproses informasi secara efektif, model ini juga berorientasi pada individu dan perkembangan keakuan. Teori ini berpendapat bahwa guru harus berupaya menciptakan kondisi kelas yang kondusif, agar siswa bebas dalam belajar dan mengembangkan dirinya, baik emosional maupun intelektual. Strategi pembelajaran dari teori ini adalah: Pembelajaran nondirektif, latihan kesadaran, sinetik, sistem konseptual.

4. Model Modifikasi Tingkah Laku (Behavioral), model ini bertitik tolak dari teori belajar behavioristik, yaitu betujuan mengembangkan sistem yang efisien untuk mengurutkan tugas-tugas belajar dan membentuk tingkah laku dengan cara memanipulasi penguatan (reinforcement), model ini lebih menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologis dan perilaku yang tidak bisa diamati lainnya, karakteristik dari model ini berada dalam hal penjabaran tugas-tugas yang harus dipelajari oleh siswa yang lebih efisien dan berurutan. Fase dalam model ini ada empat, yaitu: fase mesin pembelajaran (CAI dan CBI); penggunaan media; pengajaran berprograma (liner dan branching); dan operant conditioning & operant reinforcement. Implementasi dari model ini adalah meningkatkan ketelitian dari pengucapan seorang anak. Sedangkan sang guru haruslah selalu perhatian terhadap tingkah laku belajar dari murid-muridnya.

c) Tiga Model Desain Pembelajaran beserta langkah-langkahnya adalah:

1. Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional), model ini adalah suatu sistem instruksional yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu suatu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri dari sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sementara itu, fungsi model ini adalah untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistematik dan sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

Langkah-langkah dari pelaksanaan model ini adalah:

- Merumuskan tujuan pembelajaran, yaitu tujuan pembelajaran khusus yang berupa rumusan yang jelas dan operasional mengenai kemampuan atau kompetemsi yang diharapkan dimiliki siswa setelah mengikuti proses pembelajaran.

- Mengembangkan alat evaluasi, yaitu tes yang dilakukan yang fungsinya untuk menilai sejauh mana kemampuan siswa, pada model PPSI evaluasi dilakukan saat tujuan pembelajaran khusus telah ditetapkan.

- Menentukan kegiatan belajar mengajar, yaitu kegiatan yang akan dilakukan agar tujuan yang diinginkan tercapai, setelah kegiatan ditetapkan perlu dirumuskan pokok-pokok mteri yang akan diberikan, sesuai dengan kegiatan yang telah ditetapkan.

- Merencanakan program kegiatan belajar mengajar, titik tolaknya adalah suatu pelajaran yang diambil dari kurikulum yang telah ditetapkan jumlah jam/SKS-nya dan diberikan pada kelas dalam semester tertentu. Pendekatan dan metode harus sesuai tujuan dan materi yang telah ditetapkan, termasuk pelaksanaan evaluasi.

- Pelaksanaan, langkah-langkah dalam pelaksanaan program ini adalah mengadakan Pre-Test (tes awal), menyampaikan materi pelajaran, mengadakan Pos-Test (test akhir).

2. Model Gerlach & Ely, model ini adalah model yang melihat umpan balik dari siswanya setelah siswanya melakukan evaluasi.

Langkah-langkah pelaksanaan model ini adalah:

- Spesifikasi isi pokok bahasan (spesification of content);

- Spesifikasi tujuan pembelajaran (specification of objectives);

- Pengumpulan dan penyarinagan data tentang siswa (assessment of entering behaviors);

- Penentuan cara pendekatan, metode, dan teknik mengajar (determination of strategy);

- Pengelompokan siswa (organization of group);

- Penyediaan waktu (allocation of time);

- Pengaturan ruangan (allocation of space);

- Pemilihan media/sumber belajar (selection of resources);

- Evaluasi (evaluation of performance);

- Analisis umpan balik (analysis of feedback).

3. Model Jerold E. Kemp, model ini merupakan salah satu model yang memperhatikan karakteristik peserta didiknya saat membuat kurikulum, model ini sebelum memilih materi diadakan pre-test terlebih dahulu, pre-test tersebut digunakan untuk mengetahui apakah siswa memenuhi persyaratan atau tidak.

Langkah-langkah pelaksanaan model ini adalah:

- Mementukan tujuan pembelajaran umum atau standar kompetensi dan kompetensi dasar, yaitu tujuan yang ingin dicapai dalam setiap kegiatan pembelajaran;

- Membuat analisis tentang karakteristik siswa, analisis ini dilakukan agar kita bisa mengetahui segala sesuatu tentang siswa, seperti latar belakang pendidikan dan sosial budaya siswa agar siswa tersebut dapat mengikuti program, juga langkah-langkah yang akan diambil;

- Menentukan tujuan pembelajaran khusus atau indikator, yaitu tujuan yang spesifik, operasional dan terukur, dengan demikian siswa akan tahu apa yang harus dipelajari, bagaimana mengerjakannya, dan apa ukurannya bahwa siswa telah berhasil; dari segi guru, rumusan itu akan berguna dalam menyusun tes kemampuan dan pemilihan bahan/materi yang sesuai;

- Menentukan meteri/bahan pelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus;

- Menentukan penjajakan awal (pre-assessement) atau pre-test, dilakukan agar mengetahui apakah siswa memenuhi persyaratan untuk mengikuti program pembelajaran, dan kegiatan ini dapat digunakan untuk memilih materi yang perlu diajarkan pada siswa;

- Menentukan startegi belajar mengajar dan sumber belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus (yaitu: efisiensi, keefektifan, ekonomis, dan kepraktisan) melalui suatu analisis alternatif;

- Koordinasi sarana penunjang yang diperlukan meliputi: biaya, fasilitas, peralatan, waktu, dan tenaga;

- Mengadakan evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana program pembelajaran tercapai (dari sisi: siswa, program pembelajaran, instrumen evaluasi, dan metode yang digunakan).

2. Pola Pembelajaran (Barry Morries) dilihat dari penggunaan media yaitu :

a) Pola pembelajaran tradisional pertama adalah pola pembelajaran dimana guru sebagai pusat dari informasi, dalam pola guru memiliki peranan yang sangat besar dalam proses pembelajaran, siswa hanya sebagai pendengar.

Contohnya: Metode ceramah yang dilakukan guru saat mata pelajaran IPS, diman guru menerangkan mata pelajaran tersebut pada siswa, sesuai dengan pengetahuan yang guru tersebut ketahui, dan para siswanya mendengarkan apa yang guru jelaskan.

b) Pola tradisional kedua dalam proses pembelajaran sudah digunakan media sebagai alat bantu dalam menyampaikan informasi kepada siswa, pada pola kedua ini guru sudah memanfaatkan media sebagai alat untuk menyampaikan materi, misalnya guru menggunakan OHP, Flowchart, Media Audio, dan lain-lain. Namun pada pola ini si guru masih dominan.

Contoh: Guru menerangkan mata pelajaran IPA sesuai dengan pengetahuan yang dia miliki, dengan menunjukkan gambar yang telah disiapakan oleh guru tersebut sebelumnya, gambar tersebut ditunjukkan pada siswa menggunakan OHP.

c) Pola ketiga adalah pola pembelajaran guru dan media, dalam hal ini guru menyampaikan materi kepada siswadengan didampingi media. Dalam pola ini presentase guru dan media adalah 50%.

Contoh: guru menerangkan mata pelajaran sejarah, dan guru tersebut sudah membuat presentasi mata pelajaran sejarah sebelumnya. Dan guru tersebut menunjukkan presentasinya dengan LCD.

d) Pola keempat adalah pola pembelajaran bermedia, pada pola ini guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber informasi bagi kegiatan pembelajaran para siswa. Akan tetapi siswa dapat memperoleh informasi dari berbagai media.

Contoh: Pada mata pelajaran TIK guru memerintahkan para siswanya untuk membuat E-Mail, lalu guru tersebut memberikan tugas pada siswanya dengan mengirimkan E-Mail, dan siswa dapat menjawab pertanyaan dengan browsing di internet.

3. Menurut saya model yang cocok untuk pelaksanaan KTSP adalah model Pemrosesan Informasi, karena jika kita lihat KTSP disusun dengan memperhatikan: (1) Peningkatan Iman dan Takwa serta Akhlak Mulia; (2) Pengembangan Potensi, Kecerdasan, dan Minat sesuai dengan Tingkat Perkembangan dan Kemampuan Peserta Didik; (3) Keragaman Potensi dan Karakteristik Daerah dan Lingkunganan; (4) Tuntunan Pembangunan Daerah dan Nasional; (5) Tuntunan Dunia Kerja; (6) Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni; (7) Agama; (8) Dinamika Perkembangan Global; (9) Persatuan Nasional dan Nilai-nilai Kebangsaan; (10) Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Setempat; (11) Kesetaraan Gender; (12) Karakteristik Satuan Pendidikan, dan dalam strategi pembelajaran model Pemrosesan Informasi ada mengajar induktif yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir dan membentuk teori ini sangat sesuai pada acuan nomer (2) yaitu Pengembangan Potensi, Kecerdasan, dan Minat sesuai dengan Tingkat Perkembangan dan Kemampuan Peserta Didik, lalu ada latihan inquiry yang digunakan untuk mencari dan menemukan informasi yang memang diperlukan ini sesuai dengan acuan nomor (8) yaitu Dinamika Perkembangan Global dan nomor , jadi siswa bisa menemukan informasi yang sesuai dan memang diperlukan saat terjadi dinamika perkembangan global. Inquiry keilmuan pada strategi pemrosesan informasi yang bertujuan untuk mengajarkan sistem penelitian dalam disiplin ilmu, dan diharapkan akan memperoleh pengalaman dalam dominan-dominan disiplin ilmu lainnya, juga strategi pembentukan konsep yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berfikir induktif, mengambangkan konsep, dan kemampuan analisis ini sesuai dengan acuan nomor (5) yaitu Tuntunan Dunia Kerja, disini peserta didik mendapatkan pengalaman sehingga saat dia bekerja dia sudah mendapatkan pengalaman, selain itu saat si peserta didik bekerja dia dapat menggunakan pemikirannya untuk mengembangkan konsep dan menganalisis pekerjaannya. Model pengembangan yang ber tujuan untuk mengembangkan intelegensi umum, terutama berfikir logis, aspek sosial, dan moral sangat sesuai dengan nomor (1) yaitu Peningkatan Iman dan Takwa serta Akhlak Mulia, nomor (7) yaitu Agama ini sesuai saat peserta didik mengembangkan intelegensi umum pada aspek moral, nomor (3) yaitu Keragaman Potensi dan Karakteristik Daerah dan Lingkunganan, nomor (9) yaitu Persatuan Nasional dan Nilai-nilai Kebangsaan, nomor (10) yaitu Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Setempat, dan nomor (11) yaitu Kesetaraan Gender ini sesuai saat peserta didik mengembangkan intelegensi umum pada aspek sosial. Strategi yang terakhir adalah Advance Organizer Model yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memproses informasi yang efisien untuk menyerap dan menghubungakan satuan ilmu pengetahuan secara bermakna, ini sangat sesuai dengan acuan nomor (4) yaitu Tuntunan Pembangunan Daerah dan Nasional, dengan strategi ini tuntunan untuk pembangunan daerah dan nasional dapat dilaksanakan sesuai dengan ilmu pengetahuan yanga ada. Juga sesuai dengan nomor (12) yaitu Karakteristik Satuan Pendidikan dan nomor (6) yaitu Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni.

4. - Model CBSA (cara belajar siswa aktif) adalah suatu model pembelajaran yang lebih menekankan pada keaktifan siswanya, dan guru sagat berperan penting dalam memotivasi dan mendorong siswa agar aktif dalam pembelajaran, dalam hal ini siswa aktif tidak hanya aktif bertanya saat pelajaran, atau aktif dalam tugas-tugas pelajaran, namun dalam hal ini siswa juga aktif saat bersosialisasi dengan teman-temannya.

- Model PAKEM ( partisipatif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) merupakan model yang menafsirkan bahwa pembelajaran itu haruslah menyenagkan, jadi siswa dapat termotivasi untuk belajar dengan sendirinya tanpa ada rasa takut, juga mengadakan eksplorasi, kreasi, dan bereksperimentasi terus dalam pembelajaran. Disamping itu model ini juga merupakan penerjemah dari empat pilar yang dirancang oleh UNESCO (learning to know, leaning to do, learning to be, dan learning to life together). Ada tiga model pembelajaran yang dapat mendukung model PAKEM ini, yaitu: (1) pembelajaran kuantum; (2) pembelajaran berbasis kompetensi; (3) pembelajaran kontekstual. Dalam model PAKEM ini, guru dituntut untuk dapat melakukan kegiatan pembelajaran yang dapat melibatkan siswa melalui partisipatif, aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan yang pada akhirmya siswa dapat menciptakan sebuah karya, gagasan, pendapat, ide atas hasil penemuannya dan usahanya sendiri, bukan dari gurunya.

5. Penggunaan model pembelajaran disekolah sangatlah diperlukan karena seperti yang kita ketahui bahwa dalam merancang sebuah kurikulum pembelajaran pasti dibutuhkan suatu pedoman agar kurikulum yang dirancang tersebut tepat sasaran. Selain itu seperti yang kita ketahui bahwa suatu model pembelajaran pastilah sudah dianalisis sebelumnya, sehingga model-model tersebut tahu apa yang harus dan apa yang tidak boleh diajarkan pada anak didik. Dengan menggunakan model pembelajaran guru-guru pun jadi mengetahui cara mengajar yang baik agar para anak didiknya dapat mengerti mata pelajaran yang dijelaskan dengan mudah, dan juga cara mengajar agar para murid tidak mudah bosan saat memperhatikan pelajaran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar