mine

TAKE HOME EXAME

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Nama : Septiyani Nur Herlianasari

NIM : 0805613

Jur/Prod : Teknologi Pendidikan / Perekayasa Pembelajaran

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2010

1. ᴥ Definisi psikologi pendidikan menurut ahli:

- Arthur S. Reber (Syah, 1997 / hal. 12)
Psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut :
a. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas
b. Pengembangan dan pembaharuan kurikulum
c. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
d. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif
e. Penyenggaraan pendidikan keguruan

- Barlow (Syah, 1997 / hal. 12)
Psikologi pendidikan adalah ...... a body of knowledge grounded in psychological research which provides a repertoire of resource to aid you in functioning more effectively in teaching learning process.
Psikologi pendidikan adalah sebuah pengetahuan berdasarkan riset psikologis yang menyediakan serangkaian sumber-sumber untuk membantu anda melaksanakan tugas-tugas seorang guru dalam proses belajar mengajar secara efektif.



ᴥ Sebelum saya mendefinisikan Psikologi pendidikan sebaiknya saya mendefinisikan kedua kata tersebut satu-persatu.

Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang membahas mengenai segala bentuk perilaku atau kegiatan yang dilakukan oleh manusia yang berdasar pada kejiwaan manusia tersebut.

Pendidikan adalah suatu perbuatan atau tindakan untuk mendapatkan pengetahuan, pemahaman, atau cara bertingkah laku yang sesuai kebutuhan dengan menggunakan metode tertentu, dan semua itu proses tersebut dilakukan baik di lembaga formal maupun di lembaga non formal.

Jadi, Psikologi Pendidiakan adalah suatu ilmu pengetahuan yang membahas mengenai segala bentuk perilaku atau kegiatan yang dilakukan oleh manusia yang berdasar pada kejiwaan manusia agar perbuatan atau tindakan untuk mendapatkan pengetahuan, pemahaman, atau cara bertingkah laku yang sesuai kebutuhan dengan menggunakan metode tertentu dapat tercapai atau didapat dengan baik dan efektif.

2. Hal-hal yang dipelajari pada Psikologi Pendidikan adalah:

a. Karakteristik atau ciri peserta didik yang bermasalah.

b. Perumusan tujuan pembelajaran secara tepat untuk peserta didik.

c. Cara mengajar atau pemilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai dengan peserta didik.

d. Cara memberikan bimbingan atau konseling yang tepat untuk peserta didik yang bermasalah.

e. Cara memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.

f. Cara menciptakan iklim belajar yang kondusif.

g. Cara berinteraksi dan bersabar secara tepat dengan peserta didik.

h. Cara menilai hasil pembelajaran yang adil.

3. Manfaat yang saya dapatkan setelah mempelajari psikologi pendidikan adalah:

a. Memgetahui cara merumuskan tujuan sekolah dan pembelajaran yang tepat untuk para peserta didik.

b. Mengetahui strategi atau metode pembelajaran apa saja yang sesuai dengan karakteristik peserta didik yang beragam.

c. Mengetahui bagaimana cara memberi hukuman, memberi hadiah, memberi bimbingan, atau konseling pada masing-masing peserta didik.

d. Mengetahui bagaimana cara untuk membuat lingkungan belajar menjadi kondusif sehingga peserta didik pun menjadi semangat dalam belajar.

e. Mengetahui ciri-ciri peserta didik yang bermasalah dalam belajar, sehingga kita bisa tahu bagaimana cara untuk membantu memecahkan masalah belajarnya dan memberikan motivasi agar semangat belajarnya kembali.

f. Mengetahui cara yang tepat untuk berbaur/berinteraksi dengan peserta didik, dengan bisa membedakan antara saat di dalam kelas dengan saat di luar kelas.

g. Mengetahui cara menilai peserta didik dengan adil tanpa memandang status.

h. Mengetahui cara meredakan emosi dan menghilangkan rasa dendam pada peserta didik yang mempunyai masalah secara personal dengan kita.

4. Model pembelajaran yang sesuai dengan prinsip psikologi pendidikan menurut saya adalah model PAKEM. PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk kepentingan dirinya dan orang lain.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PAKEM

1. Memahami sifat yang dimiliki anak

Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia – selama mereka normal – terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat anugerah Tuhan tersebut. Suasana pembelajaran yang ditunjukkan dengan guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud.

2. Mengenal anak secara perorangan

Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga anak tersebut belajar secara optimal.

3. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar

Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorga-nisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.

4. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah

Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal tersebut memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sesering-seringnya memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu).

5. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik

Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disaran-kan dalam PAKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam KBM karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah.

6. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar

Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) me-rupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat ber-peran sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Peng-gunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan ling-kungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pe-manfaatan lingkungan dapat mengembang-kan sejumlah keterampilan seperti meng-amati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasikan, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram.

7. Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar

Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka.

8. Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental

Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling ber-hadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan ‘PAKEM.’

Jika kita lihat dari hal-hal yang harus diperhatikan pada model PAKEM, maka menurut saya itu sangat lah cocok dengan prinsip psikologi pendidikan dimana psikologi peserta didiklah yang harus diperhatikan.

Sedangkan jika saya membuat model pembelajaarn, model pembelajaran yang akan saya buat dinamakan Model Learn and Fun. Model ini didasarkan oleh teori Nasution (1982) tentang prinsip penerapan belajar. Model Learn and Fun ini menitik beratkan pada hubungan harmonis antara guru dan para peserta didiknya, juga antara peserta didik dengan peserta didik lainnya, sehingga kerjasama tidak hanya terjadi antara guru dengan satu peserta didik, atau hanya antar peserta didik saja. Sehingga materi pelajaran yang disampaikan oleh guru lebih mudah dimengerti oleh para peserta didiknya, dan pemahaman yang dimiliki oleh setiap peserta didiknya pun setara atau sama rata. Langkah-langkah yang harus diperhatikan oleh pendidik dalam model ini adalah:

a. Berbaur/berinteaksi akrab dengan siswa.

b. Memberikan materi pelajaran yang sudah ditentukan dan sesuai tujuan.

c. Memberikan game yang berhubungan dengan materi pelajaran yang telah disampaikan. Game yang diberikan haruslah bisa membuat hubungan antara guru dan peserta didik satu dengan peserta didik lainnya menjadi lebih akrab, selain itu game ini juga haruslah membuat para peserta didik cepat memahami pelajaran yang telah disampaikan.

d. Membiarkan siswa bertanya mengenai materi pelajaran yang telah disampaikan.

e. Memberikan kuis atau pertanyaan, yang kemudian dijawab siswa sesuai dengan pengalaman yang didapatkannya. Kuis atau pertanyaan diberikan setiap hari, setelah materi pelajaran selesai diberikan, atau sebelum jam pelajaran mata pelajaran tersebut selasai.

f. Memberikan feedback terhadap perilaku yang diberikan oleh siswa. Disini bagi siswa yang sudah menjawab pertanyaan akan mendapat feedback berupa nilai plus.

g. Melaksanakan penilaian proses dan hasil. Berupa ulangan yang dilakukan setiap beberapa materi telah disampaikan.

h. Memberikan motivasi belajar pada peserta didik, dengan memberikan hadiah kepada peserta didik yang memiliki nilai ulangan yang paling baik.

Model Learn and Fun ini meliputi beberapa strategi pembelajaran sebagai berikut:

a. Menganjar induktif, yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berfikir siswa.

b. Game, yang bertujuan untuk memacu semanagt siswa untuk belajar, dan agar siswa lebih mudah memahami materi pelajaran. Juga bertujuan untuk membuat hubungan antara guru dan peserta didik satu dengan peserta didik lainnya menjadi lebih akrab

c. Reward/Feedback , bertujuan agar siswa termotivasi untuk belajar lebih baik lagi.

d. Ulangan dan Kuis, yang bertujuan untuk melihat sejauh mana siswa sudah memahami mata pelajaran yang telah disampaikan. Juga untuk mengembangkan kemampuan berfikir siswa.

Implikasi teori Nasution (1982) tentang prinsip penerapan belajar, diantaranya sebagai berikut :

a. Belajar itu berdasarkan keseluruhan, dimana pembelajaran itu bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi berangkat dari masalah, sehingga dari masalah tersebut siswa dapat mempelajari fakta.

b. Anak yang belajar merupakan keseluruhan, bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya mengembangkan intelektualnya saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Anak haruslah diajarkan untuk bisa berbaur dengan orang-orang dan lingkungan di sektarnya. Juga anak haruslah bisa membedakan bagaimana cara berbaur dengan orang yang seusia dengannya dan berbaur dengan orang yang labih tua darinya. Untuk mengembagkan pribadi yang baik seorang anak, maka sang anak tersebut haruslah diajarkan dengan cara-cara yang menyenangkan, agar pengalaman yang dimilikinyapun menyenangkan.

c. Belajar berkat insight, dimana pemahaman terhadap hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Dengan demikian belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan kepada suatu situasi yang harus dipecahkan.

Belajar berdasarkan pengalaman, anak/siswa belajar atau memahami sesuatu dari apa yang telah dialaminya selama ini, disaat anak/siswa tersebut dihadapkan pada suatu persoalan maka anak/siswa tersebut akan memecahkan persoalan sesuai dengan pengalaman yang dimilikinya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar